Mengenal 4 Tarian Khas Jawa Barat yang Mulai Terlupakan, Apa Saja?
Setiap tanggal 29 April diperingati sebagai Hari Tari Nasional, tentu menjadi momen untuk mengingatkan kita akan kekayaan seni tari di Tanah Air. Dari sekian banyak tarian tradisional, masing-masing punya ciri khas dan nilai budaya yang berbeda.
Di Jawa Barat sendiri, ada sejumlah tari dengan ciri khasnya yang mulai jarang ditampilkan. Minimnya generasi penerus dan perhatian membuat beberapa di antaranya perlahan terlupakan. Jika tidak kembali diperkenalkan, bukan tidak mungkin warisan ini akan hilang seiring waktu. Lalu, apa saja tarian khas Jawa Barat yang mulai terlupakan? Yuk, simak ulasannya.
1. Tari Ketuk Tilu

Tari Ketuk Tilu berasal dari daerah Priangan, Bogor, dan Purwakarta. Tarian ini diwariskan oleh masyarakat Sunda sejak abad ke-19. Namanya merujuk pada tiga jenis ketukan dari alat musik pengiring, yaitu kendang dan gong kecil untuk mengatur irama. Ketuk Tilu dulunya dipertunjukkan oleh ronggeng, pemusik, dan sinden dalam suasana meriah.
Tarian ini pertama kali dihadirkan dalam upacara syukur pascapanen, yang kemudian menjadi hiburan rakyat. Gerakan dan irama dari tarian ini kemudian berkembang dan menginspirasi lahirnya Tari Jaipong, yang kini dikenal sebagai salah satu bentuk tari modern khas Sunda dengan akar kuat dari Ketuk Tilu.
2. Tari Ronggeng Gunung

Ronggeng Gunung merupakan tarian tradisional dari Priangan Timur, Jawa Barat, yang sudah ada sejak masa Kerajaan Galuh sekitar abad ke-7. Nama “ronggeng” sendiri merujuk pada sosok perempuan yang disukai dan dicintai. Tarian ini mengangkat kisah Raja Anggalarang dan awalnya berkembang sebagai hiburan di lingkungan kerajaan dengan makna yang mendalam.
Gerakannya khas karena memadukan unsur bajidor dan pencak silat. Selain sebagai hiburan, Ronggeng Gunung juga kerap ditampilkan dalam upacara adat seperti panen raya dan penyambutan tamu, biasanya diawali dengan ritual tertentu.
3. Tari Wangsa Suta
.jpg)
Wangsa Sutra adalah tarian tradisional yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat. Tari ini dibawakan oleh tujuh penari pria yang berperan sebagai tokoh Wangsa Putra sebagai pemimpin. Pada pertunjukannya, para penari seolah menceritakan suasana perang, sekaligus simbol kerja sama, kesatuan, dan semangat kepahlawanan.
Di awal pertunjukan, dua penari tampil dengan gerakan lincah berupa lompatan dan putaran, menggambarkan kesiapan sebelum memasuki pertunjukan inti. Setelah itu, tempo gerakan berubah menjadi lebih tenang, dengan ayunan tangan dan kaki yang teratur, disertai sorot mata yang bergerak ke kiri dan kanan saat mengitari panggung.
4. Tari Boboko Mangkup

Tari Boboko Mangkup adalah tarian khas Jawa Barat yang menonjolkan penggunaan boboko atau bakul nasi sebagai properti utama. Tarian ini biasanya dibawakan oleh 12 penari, terdiri dari satu pria, lima wanita, dan enam anak-anak.
Dalam pertunjukannya, penari perempuan bergerak lembut sambil memainkan boboko, sesekali mengangkat pandangan dan merentangkan tangan dengan gerakan yang halus. Menariknya, mereka juga menari di atas boboko yang dibalik, menciptakan daya tarik tersendiri. Iringan lagu tradisional semakin memperkuat nuansa khas dalam tarian ini.
Deretan tarian khas Jawa Barat ini bukan sekadar hiburan, tapi juga bagian dari identitas budaya yang perlu dilestarikan!
Ikuti informasi seputar budaya, konten sejarah, biografi dan pengetahuan umum lainnya untuk memperluas wawasan di DensKnowledge.