×

L O A D I N G

Mengenang Yayoi Kusama, Sosok Yang Hadirkan Ragam Karya Polkadot di Dunia Fashion

Dunia mode dan seni kontemporer berduka atas kepergian Yayoi Kusama. Seniman legendaris asal Jepang yang dijuluki “Ratu Polkadot” ini menghembuskan nafas terakhirnya pada Kamis (27/08/2026) di usia 97 tahun. Yayoi Kusama meninggalkan karya visual bintik-bintik berulang atau yang kini dikenal dengan motif polkadot, termasuk yang menginspirasi industri fashion global. 

Perjalanan Yayoi Kusama Menggabungkan Seni dan Mode Bermotif Polkadot


Perjalanan Kusama di dunia fashion sebenarnya sudah dimulai sejak pertengahan 1960-an. Ia merancang kostum provokatif untuk pertunjukan seni di Wall Street, sebelum akhirnya mendirikan Kusama Fashion Company Ltd. pada 1968. Karyanya yang penuh motif bintik-bintik sukses dijual di berbagai toko di Amerika Serikat, bahkan Bloomingdale's membuat area khusus bernama Kusama Corner. 

Bagi Kusama, pakaian adalah ruang interaksi sekaligus media untuk menuangkan gagasannya langsung ke tubuh manusia. Desainnya dikenal berani, erotis, dan sarat pesan sosial, mulai dari busana transparan, Gaun Pasangan, hingga Gaun Pesta yang dirancang untuk menampung 25 orang sekaligus. 

Karya avant-garde seperti Gaun Cumi-cumi Perak pun hadir menegaskan keterikatan antara seksualitas, kebersamaan, dan bentuk tubuh. Melalui kreasi ini, Kusama turut menyuarakan ktivisme artistik demi mengkritik masyarakat dan memperjuangkan kesetaraan gender. Seiring berjalannya waktu, eksplorasi pola berulangnya berhasil memikat para perancang busana dunia. 

Kolaborasi Yayoi Kusama x Louis Vuitton


Bentuk kolaborasi paling fenomenal antara seni dan mode dalam karier Kusama terwujud lewat kolaborasinya bersama Louis Vuitton. Pertemuan ini bermula pada 2012 di bawah arahan kreatif Marc Jacobs, yang terpesona saat mengunjungi studio Kusama di Tokyo. Keindahan polkadot pun langsung dituangkan ke dalam koleksi tas, pakaian, hingga aksesori. 

Deretan produk ikonik seperti tas Speedy dan Neverfull, alas kaki, kacamata hitam, hingga busana siap pakai disulap menjadi kanvas hidup bermotif bintik warna-warni. 

Kolaborasi ini terus berlanjut sepuluh tahun kemudian melalui peluncuran koleksi berskala global pada awal 2023. Koleksi kedua ini hadir dengan eksplorasi visual yang menampilkan motif polkadot bertekstur, cetakan labu (pumpkin), hingga instalasi robot humanoid berwujud Kusama di gerai utama Louis Vuitton.

Awal Munculnya Motif Polkadot Yayoi Kusama

Bagi Kusama, polkadot bukan sekedar motif yang ia ciptakan tanpa alasan. Motif bintik-bintik tersebut lahir dari halusinasi visual yang dialaminya sejak kecil, tempat ia melihat pola berulang yang seolah memenuhi pandangannya hingga memudarkan batas antara dirinya dan lingkungan sekitar. 

Pengalaman ini membentuk prinsip self-obliteration, sebuah proses meleburkan diri ke dalam pola tanpa akhir. Melalui hal inilah polkadot menjadi bahasa visual utama sekaligus media terapi bagi kesehatan mentalnya. 

Dapatkan informasi seputar fashion dan inspirasi seputar outfit lainnya di DensLife&Style.




Share this article

Rate this article



Rekomendasi Artikel Lainnya

Live Chat