Mengenal Asal Usul Anak Krakatau, Gunung Api yang Aktif di Selat Sunda
Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026) malam. Berdasarkan catatan Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, erupsi tersebut terjadi pada pukul 20.23 WIB.
Sebelumnya, aktivitas erupsi juga terjadi pada Jumat (4/9/2026) malam, yang tercatat mulai pukul 23.07 WIB dan berlanjut hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari pukul 00.01 WIB. Gunung berapi ini terletak di Selat Sunda, antara pulau Jawa dan Sumatra.
Letusan Gunung Anak Krakatau bukanlah pertama kali. Sebelumnya, pernah terjadi pada 22 Desember 2018 hingga menimbulkan tsunami Selat Sunda, yang melanda pesisir Banten dan Lampung. Gunung ini memang telah aktif secara sporadis sejak muncul dari laut pada tahun 1920-an. Agar lebih mengenal tentang Gunung Anak Krakatau, yuk simak asal usulnya sebagai berikut!
Bermula dari Letusan Gunung Krakatau
Krakatau muncul pada 416 SM, saat terjadi letusan besar yang menimbulkan tsunami dan pembentukan kaldera. Sebelum terjadi paroksismal kedua, beberapa letusan mulai diikuti dengan pertumbuhan kerucut Rakata, Danan, dan Perbuatan.
Pada letusan paroksismal yang terjadi 27 Agustus 1883 menjadi yang terbesar dalam sejarah. Letusan ini mengeluarkan rempah vulkanik dengan volume 18 km, tinggi asap 80 km dan tsunami 30 m di pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung.
Akibat kejadian itu, 297 kota kecil hancur dengan menewaskan 36.417 jiwa. Menurut perkiraan, sekitar 2.000 orang tewas di Sumatra bagian Selatan oleh “abu panas”, dan 3.150 orang tewas diarah piroklastik, yaitu pulau-pulau antara Krakatau dan Sumatra.
Lahirnya Gunung Anak Krakatau
Setelah mengalami masa tenang sejak Februari 1884 hingga Juni 1927, aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau kembali muncul. Pada 11 Juni 1930, erupsi dengan magma berkomposisi basa terjadi di pusat kompleks Krakatau. Peristiwa tersebut kemudian menjadi awal terbentuknya Gunung Anak Krakatau.
Dari banyaknya letusan membuat Gunung Anak Krakatau tumbuh semakin besar dan tinggi hingga membentuk kerucut, yang mencapai tinggi 300 m dari permukaan laut. Bahkan, wilayah daratannya semakin luas.
Sejak pertama kali terbentuk hingga tahun 2000, Gunung Anak Krakatau telah mengalami lebih dari 100 kali erupsi, baik letusan eksplosif maupun efusif. Lokasi letusannya pun umumnya berpindah-pindah, di sekitar tubuh kerucut gunung.
Gunung Anak Krakatau memiliki periode istirahat yang berlangsung sekitar 1–8 tahun. Aktivitas vulkaniknya biasanya kembali muncul dalam bentuk letusan abu dan leleran lava. Salah satu periode aktivitas tersebut berlangsung mulai 8 November 1992 hingga Juni 2000.
Gunung Anak Krakatau Menjadi Cagar Alam
Gunung Anak Krakatau juga menjadi tempat wisata yang populer, seperti untuk para pendaki dan peneliti gunung api. Namun, karena statusnya aktif dan mendadak erupsi, maka wilayahnya pun tak berpenghuni.
Gunung ini juga termasuk dalam kawasan cagar alam Krakatau yang dikelola oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Lampung. Untuk mencapainya, terdapat tiga jalur yang bisa dilalui.
Jalur pertama melalui pelabuhan Tanjung Priok, dengan menggunakan kapal pesiar. Lalu jalur kedua yaitu Pelabuhan Perikanan Labuan di Kabupaten Pandeglang dengan kapal motor atau kapal nelayan. Terakhir, bisa dilalui dari Pelabuhan Canti di Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, dengan menaiki kapal motor atau kapal nelayan, yang akan melewati Pulau Sebuku dan Pulau Sebesi.
Itulah fakta Gunung Anak Krakatau mulai dari sejarah hingga jejak aktivitas erupsinya. Semoga bisa menambah wawasan!
Dapatkan informasi seputar konten sejarah, budaya dan pengetahuan umum lainnya untuk memperluas wawasan di DensKnowledge.