×

L O A D I N G

Ikan Nila Indonesia Laris di Pasar Premium AS & Eropa Tanpa Penolakan

Ikan nila atau tilapia kini resmi menjadi salah satu komoditas andalan baru bagi ekspor perikanan Indonesia. Hal ini seiring dengan melonjaknya permintaan di pasar internasional, khususnya dari kawasan Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Erwin Dwiyana, mengatakan bahwa produk tilapia asal Indonesia sukses mencatatkan rekor zero rejection atau nihil penolakan di negara-negara tujuan ekspor.

“Saat ini tilapia menjadi komoditas ekspor kita yang nol penolakan,” kata Erwin dikutip Antara Kamis (21/05/2026).

Kepemilikan sertifikasi lengkap mulai dari GMP-SSOP, HACCP, health certificate, hingga sertifikasi bergengsi seperti ISO 22000, SQF, BAP, ASC, dan BRC menjadi jaminan mutu sehingga produk tilapia Indonesia dapat melenggang bebas tanpa penolakan di pasar dunia.

Bahkan, di pasar global ikan nila dijuluki sebagai “chicken of the sea” karena memiliki rasa yang ringan, mudah diolah, serta diperkaya kandungan protein tinggi berkisar 20 hingga 29 gram per 100 gram sajian.

Tak hanya tinggi protein, ikan nila juga disebut rendah lemak jenuh dan kaya akan nutrisi seperti asam lemak Omega 3, 6, dan 9, vitamin B12, serta berbagai mineral yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Melihat peluang yang begitu besar, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan bahwa pemerintah akan terus menggenjot jumlah produksi ikan nila. Caranya dengan membuka kawasan Budi Daya Ikan Nila Salin (BINS) di Karawang dan memperbaiki tambak-tambak di sepanjang Pantai Utara (Pantura).

“Dua program itu untuk meningkatkan kapasitas produksi nila nasional sekaligus memastikan seluruh proses budidaya memenuhi standar internasional yang berlaku,” ujar Trenggono.

Salah satu produsen lokal ikan nila yang telah menembus pasar internasional yakni Regal Springs Indonesia. Mereka berhasil mengekspor ikan nila hingga menjadi pemasok resmi untuk jaringan pub terkenal di Inggris bernama Greene King.

Direktur Regal Springs Indonesia, Tri Dharma Saputra, mengakui bahwa keberhasilan menembus pasar Inggris yang ketat ini berkat kualifikasi mereka dalam memenuhi sertifikasi internasional, salah satunya Aquaculture Stewardship Council (ASC).

“Dengan adanya ASC, budidaya perikanan dituntut bertransformasi. Semua diukur, dicatat, dan dievaluasi, mulai dari pengelolaan air, pemberian pakan, hingga menjaga kesehatan dan kesejahteraan ikan,” ujarnya.

Tri Dharma menambahkan bahwa transformasi tersebut memastikan tilapia Indonesia tidak hanya berkualitas, tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan. Di Inggris, tilapia diolah menjadi berbagai menu, mulai dari fish and chips hingga hidangan boneless untuk segmen fine dining, dengan tingkat keluhan konsumen yang rendah.

Dari segi harga, ikan nila Indonesia dinilai sangat kompetitif dibandingkan jenis ikan lainnya, sehingga terbukti mampu bersaing ketat dengan komoditas dunia yang sudah lebih mapan seperti ikan kod dan trout.

Cari tahu informasi seputar makanan dan resep hidangan lainnya di DensFood Channel.



Share this article

Rate this article



Rekomendasi Artikel Lainnya

Live Chat