Mengapa Perayaan Waisak Selalu di Bulan Purnama? Ini Penjelasannya
Hari Waisak biasanya dirayakan oleh umat beragama Buddha bertepatan dengan momen bulan purnama yang bersinar di langit malam. Namun, hal ini bukan hanya kebetulan saja, melainkan ada kaitannya dengan tiga peristiwa suci yang terjadi saat bulan tersebut.
Tradisi ini masih terus dilestarikan sampai sekarang, hingga perayaan ini menjadi momen penuh refleksi dengan makna spiritual mendalam. Di tahun 2026 ini, Hari Waisak 2570 BE akan jatuh pada 31 Mei 2026.
Alasan Hari Waisak Dirayakan Saat Bulan Purnama
Perayaan Hari Waisak selalu jatuh pada bulan purnama karena berkaitan dengan peristiwa Tri Suci Waisak. Dalam tradisi Buddhis, ada tiga fase penting yang dipercaya dalam perjalanan hidup Siddharta Gautama pada hari tersebut, tepat saat bulan purnama di bulan Vesakha, kalender lunar India.
Tiga fase tersebut adalah kelahiran Pangeran Siddharta di Taman Lumbini, pencapaian penerangan agung atau kesempurnaan menjadi Buddha, serta wafatnya Buddha Gautama (Parinibbana).
Ketiga peristiwa secara bersamaan itu dipercaya bahwa bulan purnama adalah simbol kesucian, keberuntungan, dan pengingat akan kesempurnaan ajaran Buddha bagi para umatnya. Perayaan ini biasanya diisi dengan meditasi, doa bersama, pembacaan paritta, hingga kegiatan sosial sebagai bentuk mengamalkan ajaran welas asih Buddha.
Dari sisi astronomi, penentuan Hari Waisak mengacu pada kalender lunar, sehingga perayaannya umumnya berlangsung di rentang Mei hingga Juni. Karena mengikuti sistem fase bulan, tanggalnya pun bisa berbeda setiap tahunnya.
Meski demikian, perayaan ini selalu bertepatan dengan fase Purnama Sidhi. Dalam ajaran Buddha, bulan purnama menjadi simbol kejernihan batin, cahaya kebijaksanaan, dan momen yang tepat untuk melakukan meditasi dan refleksi diri.
Dapatkan informasi seputar konten sejarah, budaya dan pengetahuan umum lainnya untuk memperluas wawasan di DensKnowLedge.