Mengenal 5 Tradisi 1 Muharam di Indonesia, Unik dan Penuh Makna
Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah akan diperingati pada Selasa, 16 Juni 2026. Momen ini tidak hanya menjadi penanda pergantian tahun dalam kalender Islam, tapi juga menjadi bulan yang istimewa bagi umat muslim untuk melakukan refleksi diri, memperkuat keimanan, serta meningkatkan kualitas ibadah.
Di Indonesia, peringatan 1 Muharam memiliki keunikan tersendiri karena dirayakan melalui beragam tradisi yang berkembang di berbagai daerah. Tradisi tersebut merupakan perpaduan antara nilai-nilai keislaman dan budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Yuk, mengenal tradisi 1 Muharam di Indonesia yang unik dan penuh makna sebagai berikut!
1. Pawai Obor

Pawai obor adalah salah satu tradisi Muharam yang kerap ditemui di berbagai wilayah Indonesia. Kegiatan ini biasanya diikuti oleh anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, dan mengelilingi lingkungan sekitar sambil membawa obor. Selama perjalanan, mereka yang pawai akan melatunkan selawat dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW.
Selain memeriahkan Tahun Baru Islam 1 Muharam, pawai obor juga bermakna cahaya yang menerangi perjalanan hidup dan menjadi wujud semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tahun baru.
2. Tapa Bisu

Tapa Bisu menjadi salah satu tradisi masyarakat Yogyakarta dalam menyambut Tahun Baru Islam yang digelar setiap malam pada 1 Muharam. Tradisi ini berupa ritual berjalan mengelilingi Benteng Keraton Yogyakarta sejauh sekitar tujuh kilometer tanpa berbicara selama perjalanan.
Ritual yang diprakarsai oleh Paguyuban Abdi Dalem Keprajan Keraton Yogyakarta ini dimulai dari Halaman Keben dan melintasi sejumlah ruas jalan di Kota Yogyakarta. Selain diikuti para abdi dalem, Tapa Bisu juga diikuti masyarakat umum, baik secara individu maupun berkelompok, sebagai bentuk refleksi diri di awal tahun baru Islam.
3. Bubur Suro

Tradisi bubur suro dapat dijumpai di beberapa daerah, terutama di Jawa Barat dan beberapa wilayah Jawa Tengah. Pada kegiatan ini, masyarakat akan bergotong royong menyiapkan bubur merah dan putih menuju masjid untuk dinikmati bersama. Tradisi ini menjadi bentuk ungkapan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan
Selain itu, bubur suro juga menjadi momen yang mempererat kebersamaan, memperkuat tali silaturahmi, serta menumbuhkan rasa kekeluargaan di tengah masyarakat.
4. Sedekah Gunung Merapi

Sedekah Gunung Merapi merupakan tradisi yang dijalankan masyarakat Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, untuk menyambut datangnya 1 Muharam. Tradisi ini dilakukan dengan mengarak kepala kerbau serta aneka hasil bumi ke kawasan lereng Gunung Merapi sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan rezeki yang diterima.
Prosesi kemudian ditutup dengan doa bersama dan makan bersama warga. Kegiatan ini menjadi simbol harapan agar masyarakat diberikan keselamatan, kemakmuran, dan keberkahan sepanjang tahun yang baru.
5. Tabuik/tabot

Tradisi tabuik menjadi salah satu cara masyarakat menyambut datangnya Tahun Baru Islam sekaligus memperingati Hari Asyura yang jatuh pada 10 Muharam. Tradisi yang berkembang di Pariaman, Sumatera Barat ini memiliki kemiripan dengan tradisi Tabot yang dikenal di Bengkulu.
Istilah tabuik berasal dari bahasa Arab yang berarti peti kayu. Perayaannya diawali dengan proses pembuatan Tabuik sejak awal Muharam dan mencapai puncaknya pada 10 Muharam. Pada hari tersebut, Tabuik diarak oleh warga sebelum akhirnya dilarung ke laut sebagai bagian dari prosesi penutup yang sarat makna budaya dan sejarah.
Beragam tradisi menyambut 1 Muharam ini tidak hanya memiliki makna religius, tapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang terus dijaga dan dilestarikan hingga saat ini.
Dapatkan informasi seputar konten sejarah, budaya dan pengetahuan umum lainnya untuk memperluas wawasan di DensKnowledge.