×

L O A D I N G

5 Tradisi Hari Asyura 10 Muharam di Berbagai Daerah Indonesia

Hari Asyura yang diperingati setiap tanggal 10 Muharam jatuh pada Kamis, 25 Juni 2026. Hari suci ini diyakini umat Muslim menyimpan banyak keutamaan, salah satunya lewat anjuran ibadah puasa Asyura. Menariknya, selain diisi dengan kegiatan keagamaan, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia juga memiliki beragam tradisi unik untuk menyambut hari istimewa Asyura. Berikut ragam tradisi perayaan Hari Asyura yang sarat makna di Indonesia!

1. Memasak Bubur Asyura (Kalimantan)

Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, warga akan berkumpul untuk bergotong-royong memasak hidangan khas berupa bubur Asyura. Bubur berwarna kuning dengan cita rasa gurih ini wajib menggunakan campuran 41 jenis bahan yang berbeda baik berupa sayuran, kacang-kacangan, maupun bahan lainnya.

Meskipun harus memakai 41 jenis bahan, isi bubur tetap menyesuaikan kondisi ekonomi warga setempat yang penting jumlahnya cukup untuk dikonsumsi satu kampung. Setelah matang, bubur akan didoakan bersama sebelum akhirnya disantap oleh warga, baik langsung di tempat maupun saat momen berbuka puasa.

2. Tradisi Tabot (Bengkulu)

Masyarakat Bengkulu menyambut hari Asyura dengan menggelar rangkaian tradisi Tabot sejak tanggal 1 hingga 10 Muharam. Dari sembilan rangkaian acara yang ada, puncak ritual ditutup dengan prosesi “Tabot Tebuang” pada tanggal 10 Muharam. 

Nantinya bangunan tabot (menara setinggi 10 meter yang terbuat dari kayu, bambu, dan kertas warna warni) diarak beramai ramai menuju makam bersejarah Karabela, yang dulunya diyakini sebagai makam Imam Senggolo (tokoh yang membawa tradisi ini ke bengkulu. Prosesi membuang Tabot ini menjadi bentuk penghormatan terakhir dan simbolis untuk membuang perbuatan buruk manusia serta mengalahkan kejahatan.

3. Tradisi Tabuik di Pariaman (Sumatera Barat)

Serupa dengan tradisi Tabot di Bengkulu, warga Pariaman, Sumatera Barat, juga menggelar tradisi Tabuik sepanjang 1-10 Muharam. Pada puncak acara, warga akan melarung tabuik (peti mati yang telah dihiasi bunga-bunga) ke laut lepas melalui Pantai Gandoriah. 

Upacara ini menjadi simbolis untuk mengenang peristiwa Perang Karbala, pertempuran di Irak antara pasukan kecil pimpinan Husain bin Ali yang merupakan cucu Nabi Muhammad SAW, dengan pasukan besar Dinasti Umayyah di bawah perintah Khalifah Yazid I. Sekaligus untuk menghormati jenazah Husain.

4. Belanja Tanpa Menawar (Sulawesi dan Kalimantan)

Peringatan Asyura di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, diwarnai dengan tradisi berbelanja yang berlangsung pada 10 Muharam hingga tanggal 12 Muharam. Di sini, warga akan membeli berbagai perkakas pertanian (seperti kapak dan cangkul) serta peralatan dapur (panci dan wajan) di pasar tanpa boleh menawar harganya sama sekali kepada penjual. Masyarakat setempat meyakini bahwa membeli peralatan tersebut tanpa tawar-menawar akan melancarkan rezeki mereka selama setahun ke depan.

Tradisi berburu alat rumah tangga ini ternyata juga terjadi di Nunukan, Kalimantan Utara. Saking antusiasnya warga membeli ember, gayung, hingga baskom pada tanggal 10 Muharam dan berbagai perkakas lainnya.

5. Kepungan Suran (Yogyakarta)

Beralih ke Daerah Istimewa Yogyakarta, warga menyambut Hari Asyura dengan tradisi “Kepungan Suran”. Di Pedukuhan Kepuh, Kulon Progo, warga memulai hari dengan membersihkan lingkungan sekitar dan area yang dianggap keramat, lalu menutupnya dengan doa bersama. 

Sementara di beberapa pedukuhan lain seperti Krembangan dan Wonosari, momen 10 Muharam ini dimanfaatkan untuk menggelar doa bersama sekaligus memberikan santunan kepada anak-anak yatim dan piatu. 

Itulah 5 tradisi perayaan Hari Asyura di berbagai wilayah Indonesia. Dapatkan informasi seputar konten pengetahuan umum, budaya, biografi dan sejarah lainnya untuk memperluas wawasan di DensKnowledge.




Share this article

Rate this article



Rekomendasi Artikel Lainnya

Live Chat