×

L O A D I N G

Rayakan HUT Jakarta, Ini 4 Kuliner Khas Betawi yang Mulai Langka

Merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta yang ke-499 pada 22 Juni, ingatan kita tentu tidak bisa lepas dari kekayaan Jakarta. Di balik gemerlap gedung pencakar langit dan hiruk-pikuk kehidupan metropolitan, Jakarta menyimpan warisan kuliner yang tak terhingga.

Sayangnya, jika kita bicara soal makanan khas, sebagian besar orang mungkin hanya mengingat kerak telor. Padahal, ada beberapa kuliner tradisional Betawi lainnya yang memiliki cita rasa nikmat, namun kini keberadaannya justru semakin langka dan terancam punah dari ingatan generasi muda. Berikut 4 kuliner betawi yang mulai langka!

1. Sayur Besan

Sesuai dengan namanya, sayur besan merupakan hidangan istimewa dalam tradisi pernikahan atau prosesi besanan adat Betawi. Kuliner ini wajib dihadirkan sebagai simbol penghormatan dan pengikat hubungan baik antar kedua keluarga mempelai saat pernikahan.

Yang membedakan dari sayur lainnya, sayur besan menggunakan bahan berupa terubuk, sejenis bunga tebu yang memberikan tekstur renyah dan warna kuning alami pada kuahnya. Sayangnya, tanaman terubuk kini sudah menjadi tanaman musiman yang sangat sulit tumbuh di area Jakarta, sehingga ketersediaan bahan yang terbatas ini membuat hidangannya ikut menjadi langka.

2. Sayur Babanci

Sayur babanci atau ketupat babanci mendapat pengaruh kuat dari budaya Tionghoa. Meski namanya sayur babanci, namun hidangan ini sama sekali tidak menggunakan sayuran, melainkan berisi daging sapi dan kelapa muda dengan kuah santan kaya rempah.

Nama “Babanci” konon merujuk pada sifat sayurnya yang tak jelas, disebut sayur tapi tidak menggunakan sayuran, atau versi lain menyebut hidangan ini dulunya sering dinikmati kalangan peranakan Betawi-Tionghoa yakni (Baba dan Enci). Akibat kelangkaan jenis-jenis rempah bahannya (seperti kedaung, botor dan tahi angin), kuliner ini sekarang hanya disajikan di momen istimewa saja.

3. Bubur Ase

Kalau dibayangkan, bubur ase ini sebenarnya mirip banget dengan bubur ayam biasa yang sering kita temui, tapi beda di kuah dan topping-nya. Jika bubur ayam memakai kuah kuning dan suwiran daging ayam, bubur ase menggunakan siraman kuah semur daging yang manis gurih lengkap dengan topping asinan sayur segar di atasnya.

Nama “Ase” sendiri merupakan singkatan dari asinan dan semur, atau berarti “dingin” dalam bahasa Betawi karena buburnya memang sering disajikan dalam kondisi tidak panas. Sayangnya, bubur ase kini sudah langka dan hanya bisa ditemui di beberapa restoran tertentu saja di Jakarta. 

4. Gabus Pucung

Selanjutnya ada gabus pucung, sup ikan khas Betawi dengan kuah berwarna hitam. Hidangan satu ini menggunakan buah kluwek sebagai bumbu utamanya, sehingga menghasilkan kuah berwarna hitam pekat, mirip seperti kuah rawon tapi teksturnya jauh lebih kental.

Bintang utama dari hidangan ini adalah potongan ikan gabus goreng, yang meresap dengan kuah hitam gurih tersebut. Sayangnya, keberadaan hidangan legendaris ini kian terancam punah, karena bahan baku seperti ikan gabus segar, buah kluwek, hingga bambu pucung yang sudah semakin susah didapatkan di area ibu kota. 

Itulah 4 kuliner Betawi yang sudah sudah mulai langka. Dapatkan informasi seputar makanan dan resep hidangan lainnya di DensFood Channel.




Share this article

Rate this article



Rekomendasi Artikel Lainnya

Live Chat