Dari Korban PHK, Kisah Sukses Dibalik Hadirnya Ibu Kota Mie Ayam Wonogiri
Siapa yang tidak familiar dengan gerobak mie ayam yang kerap mangkal di pinggir jalan? Di berbagai daerah, hidangan ini hadir dengan cita rasa masing-masing. Namun, dari sekian banyak variasi, mie ayam khas Wonogiri bisa dibilang menjadi salah satu yang paling populer dan melegenda.
Hingga baru-baru ini, Kabupaten Wonogiri resmi mendeklarasikan diri sebagai Ibu Kota Mie Ayam Bakso Indonesia yang digelar pada 3-4 Juli 2026 di Alun-alun Giri Krida Bakti, Wonogiri, Jawa Tengah. Selain itu, terdapat 5.555 porsi mie ayam gratis yang dibagikan kepada warga setempat yang juga berhasil memecahkan rekor MURI.
Seporsi mie ayam wonogiri biasanya menyajikan mie dengan topping ayam semur, sawi, daun bawang, serta pelengkap seperti bakso dan pangsit. Penikmatnya bisa memilih disajikan kering atau diguyur kuah hangat.
Rahasia kelezatannya terletak pada racikan minyak ayam yang dibuat dari campuran minyak sayur, kulit ayam, jahe, lada, ketumbar, dan bawang putih.
Kisah di Balik Kesuksesan Mie Ayam Wonogiri

Kesuksesan mie ayam wonogiri tak lepas dari peran para perantau. Banyak warga Wonogiri bekerja di warung mie ayam Jakarta pada 1980-an. Di sanalah mereka belajar meracik mi hingga memahami seluk-beluk pengelolaan usaha.
Titik balik terjadi saat krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1998. Gelombang PHK membuat banyak perantau memilih pulang kampung dan mendirikan warung mie ayam di tanah kelahiran mereka.
Tak disangka, usaha tersebut berkembang pesat hingga akhirnya menyebarkan mie ayam ke berbagai daerah. Hingga kini, penjual mie ayam wonogiri sangat mudah ditemui dimana-mana hingga kota-kota besar.
Sejarah Mie Ayam di Nusantara

Jika ditarik jauh ke belakang, mie ayam sebenarnya berakar dari tradisi kuliner Tionghoa. Dikutip dari Good News From Indonesia (GNFI), hidangan ini lahir dari proses akulturasi budaya yang panjang sejak abad ke-19. Sekitar tahun 1870, banyak warga Tionghoa berdatangan dan menetap di Pulau Jawa sembari membawa tradisi pembuatan bakmi yang kemudian disesuaikan dengan lidah lokal.
Di negara asalnya, bakmi umumnya disajikan menggunakan daging dan minyak babi. Agar bisa diterima oleh masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim, topping tersebut dimodifikasi menggunakan daging ayam berbumbu kecap manis serta minyak ayam gurih. Begitu pula dengan istilah “bakmi” yang dulunya identik dengan unsur babi, kini telah meluas dan bisa dinikmati oleh semua orang.
Dapatkan informasi seputar makanan dan resep hidangan lainnya di DensFood Channel.